Minggu, 16 Februari 2014

Rahasia Dua Lelaki (Salim A. Fillah)

dari balik tabir, kudengarkan wanita itu bicara
mengisahkan pengalaman yang akan menjadi guru
“aku bertemu dua lelaki”, dia memulai cerita dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu.
aku menerka demikian pula wajahnya
“kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak jika mereka punya kehendak”
“oh ya?”, kudengarkan sambil dalam hati mengucap “Rabbi..”

“lelaki pertama berparas titisan yusuf,
hartanya warisan sulaiman,
gagahnya serupa musa”
wanita itu berhenti, sejenak menghela nafasnya
aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku

“dan tahukah kau”, suaranya cekat kini,
“setelah bicara padanya, aku pulang terpesona,
merasa telah berjumpa dengan lelaki paling rupawan,
bercakap dengan insan paling bijaksana”

aku tak ingin tahu lebih banyak,
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
dan sepertinya dia tersenyum
“seusai berbincang dengan lelaki kedua”, katanya
“aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
merasa menjadi wanita paling jelita
merasa diriku perempuan paling cendikia”

“jadi di antara mereka”,
tanyaku sambil mengepalkan jemari
“siapa yang lebih tampan,
siapa yang lebih mengagumkan?”
kurasa dia tersenyum lagi,
menertawakanku barangkali

“laki- laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
dia bersukacita saat menebarkan pesona
dia bahagia ketika banyak hati memujanya”

“laki-laki kedua mempesona bukan karena dirinya
daya pikatnya ada pada perhatiannya,
yang membuatku merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga”

“jadi”, aku menyimpulkan perlahan,
“kau memilih yang kedua?”
dia tersenyum lagi,
“aku telah mendapatkan yang ketiga”
“laki-laki suci; yang memuliakanku dengan menikahiku
dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
dia berupaya untuk mempunya pesona lelaki pertama, tanpa mengumbarnya
dia belajar memiliki pesona lelaki kedua untuk mengagungkan isterinya
meski jauh dari sempurna, dia mengingatkanku pada sabda Sang Nabi;
sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan”

pembelajaran_semangat

Disela-sela alunan titik air yang menetes perlahan pada atap surau ini.
Terdengar bunyi
“ Ta, Ja, Shi, Syi, A, Ba, Tsa. . . “ pelan..dan terbata..
Suara yang keluar dari mulut seorang nenek tua_belajar_mengeja hujuf_semangat_tanpa malu_tapi semakin pelan..karena lidah dan suara sudah tak begitu bersahabat untuk sinkron dengan mata dan sesuatu didalam otaknya dalam menerjemahkan (atau sekedar mengucapkan ) apa yang dia lihat.

Ehm, sepenggal episod yang kujumpai pada salah satu surau disudut desa diBoyolali. 
Semangat beliau yang ingin menuntut ilmu (belajar mengeja) huruf demi huruf, kata demi kata, dalam pergantian waktu yang sedikit demi sedikit mengejarnya (dan mengejar kita). Ya, ada satu pelajaran besar yang kutanggap waktu itu juga. SEMANGAT-TERUS BELAJAR-SAMPAI KAPANPUN...
Sejenak mengingatkanku pada satu episode dimana para pemuda-pemudi malas beronggokan dengan suara-suara keluhan dari m ulut mereka. Ehm.. lupakah dengan waktu yang sebenarnya juga berjalan?? Bukan, bukan lupa tapi terkadang kesadaran itu bersembunyi.. 
Usia muda_ ya, begitu berartinya itu. Badan(fisik) yang masih kuat- otak yang bersahabat dengan organ-organ lain- dan (harusnya ) semangat yang membara_menjelma menjadi modal untuk memperbanyak aset dikemudian hari..
Ehm...apalagi kita.berada dilingkungan yang mengijinkan kita untuk belajar banyak hal. Berbagai ilmu. Berbagai sumber,,,
Semoga semangat untuk terus belajar_dari hidup_ selalu tumbuh..
Belajar ‘memberdayakan diri’.belajar ‘berguna’. Belajar memaknai hal-hal terkecil. Belajar tersenyum dah ikhlas,,,, dan banyak hal lain....
Keep spirit.