Selasa, 18 Februari 2014

_Apa yang 'nggak banget' dari Ibu Kota_

Saat pertanyaan itu ku sodorkan kebeberapa orang yang pernah tinggal di Ibu Kota (entah itu yang emang rumahnya disini ato yang hanya mencari sesuap nasi ato juga yang hanya sekedar main2 di kota dengan sebutan Megapolitan ini), ada beberapa kosakata yang muncul, diantara yaitu MACET, BANJIR, TAK BERSAHABAT, POLUSI, LAHAN CARI NAFKAH. yupz mayoritas itu. Oke, itu pendapat mereka, dan kata kata itu semua bener sich, Tapi menurutku ada kata lain yang 'nggak banget' dari kota megapolitan ini....
Pertama kali memutuskan untuk ambil tawaran bergabung dengan salah satu konsultan di Jakarta, adaptasi yang agak butuh waktu adalah JALANAN, ya jalanan Jakarta yang padat, semprawut dan polusi. apalagi aku punya hidung yang cukup sensitif dengan debu dan polusi udara. bersyukur adalah saat kost ku berada tidak jauh dari kantor tempatku bekerja. alhasil tinggal jalan kaki sampe dech. Oke, keruwetan dijalan adalah hal pertama yang 'nggak banget' dari Ibu Kota menurutku waktu itu. satu, dua, tiga minggu berlalu, aku menemukan sesuatu yang pokokmen 'nggak banget' dari Kota ini, yaitu MEMBESARKAN ANAK.
Hey lihat, anak2 disini nggak punya lahan bermain layaknya anak-anak pedesaan, anak2 sini hanya berkutat dengan benda mati dan benda canggih. sepertinya aku nggak rela anakku kelak tumbuh disini. kalian tau, masa kecilku, bisa main layang-layang di sore hari selepas pulang sekolah, bisa pit-pit'an (main sepeda) mengelilingi kampung, mandi dikali sambil ngoleksi batu-batuan yang lucu-lucu, maen rumah-rumahan di bawah rindang pohon dibelakang rumah, maen petak umpet saat purnama, maen nekeran (kelereng) di teras tanah samping rumah, benthik, dan masih banyak lagi. dan ITU SANGAT MENYENANGKAN. dan aku ingin ankku juga merasakannya. apakah itu semua hanya sekedar bermain?? oo tentu tidak, segala aktifitas masa kecil itu akan berpengaruh juga untuk masa dewasanya kelak, dimana mereka (anak2 desa) menjadi lebih bisa bersahabat dengan alam, dengan lingkungannya, lebih pedulidengan makhluk hidup, dengan teman2 nya, dan lebih survive.
seperti nggak rela aja melihat anak2 yang tumbuh denan kebiasaan yang serba instan dikota2, dengan berbagai fasilitas canggih yang hanya akan mempersempit ruang geraknya, melumpuhkan ide2 kreatifnya. oke memang jaman sekarang marak muncul Sekolah Alam. itu bagus juga untuk pendidikan anak di jaman yang sudah 'dikuasai' oleh benda2 mati ini. tapi tetap saja tidak seefektif tumbuh dan berkembang bersama alam secara langsung tanpa perlu komando-komando dari pemandu ato sejenisnya.


Sesuatu yang 'nggak baget' dari Ibu Kota menurutku adalah MEMBESARKAN ANAK. membiarkan anakku tumbuh dan berkembang disini diusia balita terutama, adalah semacam ada ketidakrelaan buatku. terepas dari entah suatu hari aku akan kepentok realita bakal membesarkan anak disini ato tidak, ato ALLAH bakal mengijnkanku menikah dan berketurunan ato tidak, yang jelas itu pandanganku saat ini.